Blitar
Tokoh Lintas Agama dan Aliansi Suporter Blitar Gelar Doa Bersama Tujuh Hari Tragedi Kanjuruhan di Alun-alun

Memontum Blitar – Suasana haru menyelimuti ribuan massa yang mengikuti kegiatan doa bersama untuk mengenang tujuh hari tragedi Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Ribuan massa yang terdiri dari berbagai suporter berbagai club sepak bola tersebut memadati Alun-alun Kota Blitar, Jumat (07/10/2022) malam.
Meski sempat hujan deras, namun tidak menyurutkan niat dan semangat suporter untuk mengikuti doa bersama. Kegiatan doa bersama ini, melibatkan tokoh lintas agama, budayawan dan aliansi Suporter Blitar.
Salah seorang suporter Aremania Blitar, Galih Purna (23), warga Gandusari, Kabupaten Blitar, mengatakan bahwa melalui doa bersama ini, dirinya berharap semoga semua para korban tragedi Kanjuruan, bisa diampuni segala dosanya dan mendapat tempat terbaik di sisi Nya. “Kami mendoakan para korban tragedi Kanjuruhan. Semoga mereka tenang dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya,” kata Galih Purna.
Baca juga :
- Dorong Ekonomi Syariah dan Digitalisasi Pembayaran, BI Kediri Gelar Syiar 2025 di Blitar
- Tertimbun Sedalam 10 Meter, Korban Kedua Longsor di Sungai Kaliputih Blitar Ditemukan Meninggal
- Satu Korban Longsor Tebing Sungai Kaliputih Blitar Ditemukan Tak Bernyawa
- Pemkot Blitar Songsong Percontohan Kota Antikorupsi 2025
- Mas Dhito bersama Kader PDI-Perjuangan Iringi Ketum Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno
Lebih lanjut Galih menyampaikan, para suporter dari berbagai club sepakbola di Blitar, bisa selalu damai dan kompak dalam mendukung sepak bola Indonesia. Para suporter juga berharap, tidak ada lagi tragedi serupa yang memakan korban. “Kami harap tragedi ini agar diusut tuntas. Jangan lagi ada korban maupun tragedi serupa di Kanjuruhan. Tidak ada sepak bola seharga nyawa,” jelasnya.
Suporter Arema asal Kecamatan Gandusari ini, sekali lagi ingin tragedi Kanjuruhan diusut tuntas. Sebab, dirinya juga merasakan sesaknya gas air mata saat tragedi Kanjuruhan. “Saya di sana, di tribun 14, saya tahu betul rasanya gas air mata. Perih sekali. Suasananya sangat mengerikan. Untuk itu, saya harap tragedi ini agar diusut tuntas,” ujarnya.
Galih menjelaskan, saat gas air mata ditembak di tribun 13 dan 14, suasana langsung mencekam. Banyak anak kecil, suporter perempuan ikut berdesak-desakan agar bisa keluar dari tribun. “Saya termasuk orang yang selamat saat itu. Sampai saat ini, pun masih terekam jelas kejadian di Stadion Kanjuruhan,” ujarnya. (jar/gie)

Hukum & Kriminal6 tahunTak Boleh Dekati Stadion, Massa Bonek Bakar Motor di Jalan Kalibrantas Kota Blitar
Hukum & Kriminal6 tahunMantan Walikota Blitar Laporkan Walikota Blitar, Terkait Dugaan Penipuan Rp 600 Juta
Hukum & Kriminal6 tahunBocah 10 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai Lekso
Berita6 tahunDiduga Terpapar Covid, Seorang Dokter di Kota Blitar Meninggal Dunia
Pemerintahan6 tahunIGD RSUD Ngudi Waluyo Ditutup 3 Hari, 30 Nakes Positif Covid-19
Pemerintahan6 tahunKapolres Blitar Kota Gelar Asistensi dan Cek Kesiapan Kampung Tangguh
Hukum & Kriminal6 tahunPemkot Blitar Belum Bentuk Tim Kuasa Hukum, Masih Nunggu Hasil Kajian
Blitar10 bulanDorong Ekonomi Syariah dan Digitalisasi Pembayaran, BI Kediri Gelar Syiar 2025 di Blitar














