Connect with us

Hukum & Kriminal

Mantan Walikota Blitar Laporkan Walikota Blitar, Terkait Dugaan Penipuan Rp 600 Juta

Diterbitkan

||

Joko Trisno M, SH, kuasa hukum mantan Wali Kota Blitar, M Samanhudi Anwar menunjukan surat pelaporan
Joko Trisno M, SH, kuasa hukum mantan Wali Kota Blitar, M Samanhudi Anwar menunjukan surat pelaporan

Memontum Blitar – Mantan Wali Kota Blitar M Samanhudi Anwar melalui pengacaranya, Joko Trisno M, SH melaporkan Wali Kota Blitar Santoso dan M Mukhroji ke Polres Blitar Kota. Keduanya dilaporkan atas keterlibatan dugaan kasus penipuan senilai Rp 600 juta terkait peningkatan status salah satu perguruan tinggi di Kota Blitar, dari Akademi menjadi Universitas.

Joko Trisno mengatakan, laporan ini dilakukan setelah kliennya (Samanhudi Anwar) yang juga mantan Wali Kota Blitar mengadu karena merasa tertipu dalam proses pengurusan Akademi Putra Sang Fajar menjadi Universitas Putra Sang Fajar. Saat itu Samanhudi ingin meningkatkan status Putra Sang Fajar dari akademi menjadi universitas, untuk mendukung program pendidikan S1 (Sarjana) gratis di Kota Blitar.

“Dalam proses pengurusan Akademi Putra Sang Fajar menjadi Universitas Putra Sang Fajar tersebut, diduga ada keterlibatan Santoso dalam kasus dugaan penipuan ini,” kata Joko Trisno, Senin (27/7/2020).

Lebih lanjut Joko Trisno menyampaikan, saat itu setelah beberapa bulan terpilih menjadi Wali Kota Blitar periode ke dua pada pertengahan 2016 lalu. Kliennya didatangi Santoso yang saat itu menjabat Wakil Wali Kota Blitar, mengaku jika dirinya mengenalkan seseorang bernama M Mukhroji. Dimana pada saat itu berprofesi sebagai dosen di salah satu Universitas di Blitar.

“Menurut klien saya, Santoso mengatakan jika Mukhroji bisa menguruskan perubahan Akademi Putra Sang Fajar menjadi Universitas Putra Sang Fajar, karena memiliki kenalan di Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta,” jelas Joko Trisno.

Joko menambahkan, informasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut disepakati adanya biaya untuk mengurus perubahan tersebut yaitu sebesar Rp 800 juta, dengan perjanjian akan dikembalikan jika tidak berhasil.

“Karena yakin dengan omongan Santoso, akhirnya disepakati biaya Rp 800 juta tersebut. Kemudian dengan uang pribadinya, klien saya memberikan uang tunai Rp 600 juta . Dan atas permintaan Santoso ditransfer ke rekening atas nama Mukhroji, kemudian sisanya akan dilunasi jika proses selesai atau SK perubahan sudah diterima,” papar Joko Trisno.

Joko Trisno menandaskan, hingga saat ini proses perubahan Akademi Putra Sang Fajar menjadi Universitas Putra Sang Fajar tidak ada realisasinya. Padahal uang sudah ditransfer. Bahkan Joko menyebut, beberapa kali pihaknya menanyakan terkait hal tersebut, namun tidak ada tanggapan.

“Akibatnya klien saya mengalami kerugian materiil sebesar Rp 600 juta. Serta kerugian imateriil, karena rasa malu klien saya tidak bisa mewujudkan program pendidikan S1 gratis bagi warga Kota Blitar,” tandasnya.

Joko mengaku, setelah menerima kuasa dari Samanhudi, pihaknya sudah melakukan beberapa upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Mulai musyawarah tidak direspon, kemudian somasi pertama pada Mei 2020, somasi kedua Juni 2020 juga tidak dijawab. Hingga kasus ini dilaporkan melalui pengaduan ke Polres Blitar Kota, pada 14 Juli 2020, kemudian diberikan tanda terima tertanggal 23 Juli 2020 lalu.

“Ini murni masalah pribadi dan selama ini klien saya sudah berulang kali menanyakan dan menagih. Tapi tidak ada respon, termasuk dengan adanya 2 somasi yang saya sampaikan juga tidak dijawab. Jadi silahkan dinilai seperti apa, karena soal hukum dan politik itu jelas beda,” ujar Joko.

Ditegaskannya, apa yang dilakukannya adalah sebuah upaya hukum untuk meminta kembali hak seseorang yang telah diambil tanpa pertanggunjawaban.

“Jadi tolong dibedakan proses hukum dan proses politik, jangan dicampuradukkan,” pungkasnya.

Sementara Kapolres Blitar Kota AKBP Leonard M Sinambela saat dikonfirmasi membenarkan atas surat pengaduan dugaan penipuan yang diadukan Santoso dan Mukhroji tersebut.

“Iya benar ada surat pengaduan, terkait dugaan penipuan itu. Kini pengaduan ini sedang ditindaklanjuti. Dicek apakah ada bukti-buktinya, apakah benar ada tindak pidana,” kata AKBP Leonar M Sinambela.

Terpisah Santoso ketika dikonfirmasi terkait adanya pengaduan polisi ini menjawab melalui pesan whatsapp, jika semua itu tidak benar.

“Percayalah yang dituduhkan itu bohong. Serupiah pun saya tidak menerima uang itu. Itu hanya manuver politik untuk mencemarkan nama baik saya. Saya akan tuntut balik atas pencemaran nama saya tersebut,” tulis Santoso melalui pesan whatsapp. (jar/yan)

 

Advertisement
1 Komentar

1 Komentar

  1. Pingback: Pemkot Blitar Belum Bentuk Tim Kuasa Hukum, Masih Nunggu Hasil Kajian - Memontum Blitar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Blitar

Tertimpa Tumpukan Gula, Satu Pekerja Pabrik Gula RMI Blitar Meninggal dan Satu Luka Serius

Diterbitkan

||

oleh

Tertimpa Tumpukan Gula, Satu Pekerja Pabrik Gula RMI Blitar Meninggal dan Satu Luka Serius
POLICE LINE: Lokasi pekerja outsourcing pabrik gula PT RMI di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, meninggal dunia dalam kecelakaan kerja. (memontum.com/jar)

Memontum Blitar – Seorang pekerja outsourcing Pabrik Gula (PG) PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, dilaporkan meninggal dunia seusai mengalami kecelakaan kerja, Kamis (11/08/2022) sekitar pukul 04.30. Korban meninggal dunia, karena diduga akibat tertimpa tumpukan gula di gudang gula PT RMI.

Manajer Human Resources dan General Affair (HRGA) PT RMI, MP Hariadi, mengatakan bahwa karyawan outsourcing yang meninggal dunia tersebut bernama Dedik Setyawan (33), warga Desa Ngembul, Kecamatan Binangun. “Korban tertimpa tumpukan gula di gudang gula PT RMI,” kata Hariadi.

Dalam kejadian itu, ujarnya, ada dua orang yang mengalami musibah. Yakni, satu meninggal dan satunya mengalami patah tulang. “Kecelakaan kerja itu mengakibatkan satu orang pekerja meninggal dunia, dalam perjalanan menuju rumah sakit. Selain itu, satu orang lagi atas nama Rico (27) warga Desa Sambirejo, mengalami luka patah tulang,” jelasnya.

Hariadi menambahkan, kecelakaan tersebut terjadi ketika kedua korban sedang bekerja pada shift ke-3 yaitu pukul 00.00 – 08.00. “Pekerjaan di gudang gula sebenarnya mayoritas sudah menggunakan mesin. Pekerjaan menyusun tumpukan karung gula, misalnya, dikerjakan dengan menggunakan forklift. Namun, masih ada pekerjaan manual yaitu menyusun dasaran tumpukan karung gula yang merupakan salah satu tugas kedua korban,” imbuhnya.

Baca juga :

Hariadi menjelaskan, kedua korban diduga menggeser karung gula yang sedang disusun oleh pekerja lainnya. “Karung gula tersebut, selain sebagai dasaran tumpukan, juga berfungsi sebagai pengunci agar tumpukan karung gula yang ada disampingnya tidak roboh,” terangnya.

Akibat digeser, tumpukan karung gula setinggi lima sap atau sekitar 5 meter tersebut, roboh dan menimpa kedua korban. Tim safety PT RMI segera memberikan pertolongan pertama dan melarikan kedua korban ke Rumah Sakit Wafa, Kesamben.

“Korban Dedik Setiawan yang mengalami luka berat di kepala, meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Sedangkan korban Rico, saat ini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Wafa,” jelasnya.

Hariadi menegaskan, meskipun keduanya berstatus karyawan outsourcing, namun PT RMI tetap akan memberikan dana duka kepada pihak keluarga, memberikan biaya pemakaman dan juga bantuan pengobatan kepada korban luka. (jar/gie)

Lanjutkan Membaca

Blitar

Wabup Blitar Hadiri Pisah Sambut Pimpinan Binda Jatim

Diterbitkan

||

oleh

Wabup Blitar Hadiri Pisah Sambut Pimpinan Binda Jatim
HADIR: Suasana kenal pamit pimpinan Binda Jatim antara Marsma TNI Rudy Iskandar dan Brigjend TNI Fahmi.

Memontum Blitar – Badan Intelejen Daerah (Binda) Jawa Timur (Jatim) menggelar kenal pamit pimpinan, antara Marsma TNI Rudy Iskandar dan Brigjend TNI Fahmi Sudirman, yang digelar di salah hotel di Surabaya, Selasa (02/08/2022) tadi.

Informasi yang dihimpun, Marsma TNI Rudy Iskandar kini dipromosikan dalam jabatan baru atau naik pangkat. Sementara Brigjend TNI Fahmi Sudirman, yang sebelumnya ditunjuk menjabat Kabinda Jatim, menempati posisi Kabag Ops Binda Jatim.

Untuk diketahui, selain Kabinda Jatim, sejumlah Kepala Kabinda di Pulau Jawa mengalami pergantian menjelang Pemilu 2024. Mulai dari DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Rotasi jabatan tersebut tertuang dalam surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/558/VI/2022 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan Dalam Jabatan di Lingkungan TNI.

Baca Juga :

Hadir dalam acara tersebut, sejumlah pejabat penting daerah maupun tokoh – tokoh penting di Jawa Timur. Wakil Bupati (Wabup) Blitar, Rahmat Santoso, dalam kesempatan itu berharap sinergitas yang sudah terjalin apik antara Binda Jatim dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, bisa terus terjaga. “Selamat dan terimakasih kepada beliau berdua. Mudah-mudahan beliau bisa mengemban amanah di tempat yang baru nanti,” kata Wabup Rahmat Santoso.

Lebih lanjut Wabup Rahmat Santoso menyampaikan, selama ini, kontribusi Binda Jatim, cukup besar di Kabupaten Blitar. Diantaranya, Binda Jatim beberapa kali memberikan dukungan ketika wabah pandemi Covid-19.

“Saat jatah vaksin kurang, kami dibantu Binda Jatim. Hal ini, bukan agar capaian vaksinsasi kita bagus. Namun mengurangi risiko paparan virus yang lebih penting,” jelasnya.

Wabup Rahmat Santoso menambahkan, sinergitas yang baik tersebut tentu harus dilanjutkan pada periode kepemimpinan Brigjend TNI Fahmi Sudirman sebagai kepala Binda Jatim yang baru. Terlebih, kabarnya perwira tinggi tersebut memiliki keluarga di Kabupaten Blitar.

“Monggo, silakan datang berkunjung ke Kabupaten Blitar. Tangan kami selalu terbuka demi kebaikan masyarakat Bumi Penataran,” pungkas Wabub Blitar yang juga Ketua Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI). (jar/gie)

Lanjutkan Membaca

Blitar

Kakek di Blitar Ditemukan Tak Bernyawa dengan Tubuh Terbakar di Ladang Tebu Milik Sendiri

Diterbitkan

||

oleh

Kakek di Blitar Ditemukan Tak Bernyawa dengan Tubuh Terbakar di Ladang Tebu Milik Sendiri
TKP: Lokasi tempat Boiman diketemukan meninggal dunia di ladang tebu akibat terbakar. (memontum.com/jar)

Memontum Blitar – Seorang kakek ditemukan meninggal dunia di tengah-tengah ladang tebu miliknya, Rabu (13/07/2022) sekitar pukul 10.00. Kakek yang teridentifikasi bernama Boiman (75), warga Desa Tumpakepuh, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, saat diketemukan tubuhnya mengalami luka bakar.

Kapolres Blitar, AKBP Adhitya Panji Anom, melalui Kasi Humas Polres Blitar, Iptu Udiono, mengatakan bahwa korban sebelum kejadian, sekitar pukul 06.00 diketahui berangkat ke kebun tebu yang berjarak 1 kilometer. Kemudian, sekitar pukul 10.00, keluarga korban mendapat kabar dari saksi yang pada saat itu menebang tebu di sekitar lokasi kejadian, melihat asap tebal dari ladang milik korban. Mengetahui hal tersebut, anak korban bersama tetangga sekitar, kemudian bergegas ke ladang untuk mencari korban.

“Korban ditemukan di sela-sela pohon tebu yang masih terbakar, dengan kondisi luka bakar di tubuhnya dan sudah meninggal dunia,” kata Udiono.

Baca juga:

Udiono menambahkan, selanjutnya tetangga korban berusaha mematikan api. “Setelah api padam, korban dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan. Keluarga korban menerima kejadian ini sebagai musibah,” imbuhnya.

Lebih lanjut Udiono menyampaikan, TKP tersebut di lahan milik perhutani yang digarap warga sekitar untuk ditanami tebu. “Di lokasi tempat korban terbakar ditemukan barang bukti berupa 1 buah korek gas milik korban,” jelasnya.

Dari keterangan keluarga, korban mempunyai riwayat penyakit asma dan rutin berobat ke dokter.  (jar/sit)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler